Baru-baru ini saya merasakan benar kata-kata diatas. Teman saya sebentar lagi betul-betul akan sendiri. Bulan Juli nanti kokonya (Wilson) akan menikahi perempuan yang selama ini dipacarinya. Ketika nopi ceritakan saya tahu betapa dia sedih tapi juga mengerti bahwa tidak pantas untuk menghalangi sebuah pernikahan hanya karena tidak mau ditinggal sendiri.
Nopi, kedua orang tuanya sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu. Saya sahabatnya, semoga perasaan ini benar, ikut merasakan rasa sepi itu. Saya sering suruh dia untuk menginap atau sebaliknya.
Dipertengahan tahun 2012 dia menyukai seorang pria yang juga teman saya. Sebut saja namanya popo ( Tapi popo gak suka sama nopi karna popo gak suka sama ketawanya nopi yang kaya setan. ) AKAKKAKAKAK. Sedih, saya berusaha semaksimal mungkin untuk meyakinkan nopi bahwa betapa beruntung pria yang punya nopi nanti. Saya mengiriminya banyak pesan bahkan surat.
Saya mulai memaksanya untuk ikut berbagai kegiatan yang ada digereja kami. Benar sangat berguna, karena kadang saya suka kehabisan cara kalau dia sudah mulai dilema. Akut sekali.
Novi move on diawal tahun 2013.
Suatu hari dia pernah katakana bahwa saat ini dia mau focus dengan tugasnya dan melayani Tuhan. TAPIIIIIII bulan February lalu dia bilang dia suka lagi sama seorang pria. Mulai sebal saya cuma bilang “ lo tau kan gimana rasanya? Lo tau juga gimana susahnya untuk pindah dari rasa-rasa kaya gitu. Terserah. Kalo lo udah berani terjun lagi ya silahkan.”
Saya menyayangi Novi karena dia gak marah kalao dinasehatin dengan nada suara yang bagaimanapun, dia teman yang tulus. Saya sayang Novi karena dia yang setia nyupirin saya dan lia kemana-mana, karena saya tau betapa dia sayang saya. Saya sayang Novi sampai saya bisa tau dalam keadaan seperti apa dia menulis sebuah pesan.
Kemarin, dia bertanya bolehkah seseorang mendoakan orang yang belum mereka kenal. “Kenapa enggak? “ jawab saya “ bahkan gw sering ngelakuinnya “ Saya sering mendoakan pengemis untuk punya hidup yang lebih baik, supir yang ugalan agar lebih santai nyetir dan sebaliknya, anak sekolah yang naik angkot, penjual ulekan, dll.
Malamnya dia bercerita tentang seseorang yang sedang dia doakan. Jadi yang dia maksud adalah mendoakan orag asing untuk jadi pasangan. WAAAAAA!!!! SAYA SALAH DUGA.
Tapi siapa saya yang boleh melarang hati bergerak. Saya senang, meski saya sedikit takut untuk mendukungnya. Saya selalu takut dia sakit lagi, sedih lagi.
Hati tetap bergerak. Malam itu saya berdoa supaya Tuhan yang menjaga hatinya. Meminta Tuhan untuk ajar dia tidak mencintai siapapun melebihi Tuhan.
Paling tidak saya tau dia memulai pengharapan baru ini dengan sebuah doa bahkan dia berpuasa untuk memenangkan hal ini. Saya bangga.
Hari ini saya mendengar kabar baik. Dia dan sang pria pujaan hati mulai sama – sama bergerak, merespon. Saya berharap tidak sampai disini saja, saya ingin Novi punya pacar.
Siang tadi dikantor sebelum makan siang saya berdoa juga buat dia. Supaya Tuhan mendukung mereka. Saya ingin Tuhan kirimkan seorang pria untuk jadi teman dan pasangan untuknya.
Untuk kamu Hai pria botak. Kenapa kamu biarkan Novi menikung saya. Salam kenal dari orang yang paling sering dibuat susah oleh novi. Kamu beruntung karena kamu ada dalam hati dan dijaga oleh doanya. Terima kasih jika kamu tidak menggeser posisi saya. Baik-baik ya.